Bengkulu – Seminar Nasional bertajuk “AI vs Manusia: Siapa yang Mengontrol Opini Publik di Era Media Digital?” menjadi penanda penting pelantikan Pengurus ASPIKOM Korwil Bengkulu Periode 2025–2029, Kamis 12 Februari 2026, di Aula Lantai 4 Kampus 1 Universitas Dehasen Bengkulu. Forum ini tidak sekadar seremoni organisasi, tetapi menjadi ruang refleksi bersama tentang masa depan komunikasi ditengah derasnya arus kecerdasan buatan dan pertarungan narasi di ruang digital.
Kegiatan dimulai sejak pukul 08.00 WIB, diawali registrasi dan coffee morning, lalu pembukaan resmi oleh Rektor UNIVED Prof. Dr. Husaini, S.E., M.Si., Ak., setelah sebelumnya sambutan disampaikan Dekan FIS UNIVED Dra. Maryaningsih, M.Kom. Seminar menghadirkan Ketua Umum ASPIKOM Prof. Anang Sujoko, D.COMM sebagai narasumber utama, bersama Ketua KPU Provinsi Bengkulu Rusman Sudarsono dan Anggota DPRD Muko Muko Frenky Janas. Hadir juga Kepala Dinas Kominfotik mewakili Wali Kota Bengkulu.
Isu yang diangkat terasa dekat dengan realitas hari ini. Ditengah algoritma media sosial yang menentukan apa yang muncul di beranda publik, pertanyaan tentang siapa sesungguhnya yang mengontrol opini menjadi relevan. AI tidak lagi sekadar alat bantu, tetapi sudah masuk dalam produksi konten, analisis sentimen, hingga pembentukan persepsi. Dalam konteks ini, kampus dan akademisi komunikasi dipandang memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga ruang publik tetap sehat.
Ketua Umum ASPIKOM Prof. Anang Sujoko menekankan pentingnya literasi digital yang tidak berhenti pada kemampuan teknis, tetapi menyentuh etika, nalar kritis, dan keberpihakan pada kebenaran. Tantangan terbesar bukan pada teknologinya, melainkan pada manusia yang menggunakannya. AI bisa mempercepat distribusi informasi, namun tanpa kendali nilai, ia juga bisa mempercepat penyebaran disinformasi.
Dari perspektif penyelenggara pemilu, Ketua KPU Provinsi Bengkulu menyinggung bagaimana ruang digital kini menjadi arena strategis pembentukan opini politik. Informasi yang terdistorsi, manipulasi visual, hingga potensi deepfake menjadi ancaman nyata bagi kualitas demokrasi. Karena itu, kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dan masyarakat sipil menjadi kebutuhan mendesak.
Usai seminar, acara berlanjut pada pelantikan resmi Pengurus ASPIKOM Korwil Bengkulu Periode 2025–2029 berdasarkan Surat Keputusan Ketua Umum ASPIKOM yang ditetapkan Oktober 2025. Prosesi meliputi pembacaan SK, pengambilan sumpah jabatan, penyerahan atribut, hingga penandatanganan berita acara. Sri Narti, M.I.Kom resmi mengemban amanah sebagai Ketua Wilayah, didukung struktur kepengurusan yang melibatkan akademisi dari berbagai perguruan tinggi di Bengkulu.
Kehadiran jajaran dewan pelindung, dewan pakar, serta pengurus lintas kampus menunjukkan bahwa ASPIKOM Bengkulu dirancang sebagai rumah bersama. Bukan hanya menguatkan kurikulum dan akreditasi, tetapi juga mendorong riset, publikasi, sertifikasi profesi, hingga pengembangan laboratorium dan produksi konten kreatif. Ditengah perubahan cepat industri media, penguatan kapasitas dosen dan mahasiswa menjadi agenda strategis.
Momentum ini sekaligus menegaskan bahwa perguruan tinggi tidak boleh berjalan dibelakang perubahan. Ketika AI berkembang lebih cepat dari regulasi, ketika opini publik mudah digiring oleh potongan video dan judul sensasional, maka kampus harus hadir sebagai penjernih. Diskursus akademik perlu turun keruang publik, menjembatani teknologi dengan etika.
Pelantikan dan seminar ini menjadi pengingat bahwa pertarungan opini diera digital bukan sekadar soal siapa paling cepat, tetapi siapa paling bertanggung jawab. Disinilah peran ilmu komunikasi diuji. ASPIKOM Bengkulu memulai periode barunya dengan tantangan besar, menjaga agar kecanggihan teknologi tetap berpijak pada nilai, dan memastikan manusia tetap menjadi pengendali utama arah percakapan publik.

